Jumaat, 16 Oktober 2009

kisah kampungku yang sepi

Kampung Laboi,
damai dalam hati
tapi sepi daripada arus pembangunan.

aku setia menunggu,
agar kampung sepi ini,
membangun seiring arus modenisasi.

namun hingga kini,
sepi.

Kampung Laboi, my kampung

i
aku hidup seribu tahun,
lelah sendiri
sepi.


telah lama aku lihat,
juga merasa,
angin kampung tetap sama,
sejuk, damai serta setia.


kepada dia, aku berjanji
biar aku curahkan kasih,
agar dia bisa berpaut.

mengkin esok aku tiada,
tapi pasti akan kembali.

ii
kampung ku indah,
airnya setia,
mengalir lesu
tapi tak kering
walau kemarau seribu tahun.

iii
aku melihat,
anak-anak kampungku,
umpama air,
sedikit,
lesu berlari,
mengejar impian
sambil waktu cepat mengejar.

iv
mungkinkah,
seperti insan yang setiap saat melangkah dewasa,
akan maju juga kampungku,
seiring perjalanan bangsa
menuju kejayaan, atau
terus menglir lesu?




biarlah aku berjalan longlai
 walau sampai sejuta tahun